Pengertian Bearish, Ketika Pasar Saham sedang Lesu

Bearish adalah kondisi yang sebetulnya berkebalikan dengan bullish, dimana kondisi bursa efek atau trading tengah dalam kondisi penurunan. Ketika hal tersebut terjadi, artinya investor akan membacanya sebagai hal yang kurang baik untuk melakukan transaksi.

Meskipun begitu sebetulnya para investor sudah memiliki cara masing-masing dalam menanggapi bearish ini. Namun yang lebih penting dari kondisi bearish ini adalah perekonomian makro di sebuah negara yang baru tidak bagus.

Biasanya dalam kondisi bearish banyak investor akan mengambil tindakan cut loss atau jual rugi. Namun sebetulnya tidak selalu begitu, bahkan dalam kondisi bearish pun ada banyak investor yang justru melakukan penjualan saham-saham yang dinilai masih menguntungkan (profit tacking).

Faktor yang Menyebabkan Bearish

Aksi Profit Taking yang berbuah Sentimen Negatif

Pada dasarnya kondisi bearish banyak diakibatkan aksi ambil untung dari penjualan saham yang dilakukan. Masalahnya adalah dalam beberapa hal investor mengambil aksi profit taking ini di waktu bersamaan yang justru dapat menurunkan harga saham.

Hal ini dikarenakan volume jual yang lebih banyak justru kurang menarik bagi investor untuk membeli di harga tinggi. Inilah yang dapat membuat kondisi pasar menjadi bearish, dimana aksi jual untung lebih banyak dilakukan daripada pembelian.

Laporan Keuangan yang Kurang Baik

Beberapa waktu yang lalu salah satu raksaksa manufaktur China, Evergrande dilaporkan memiliki hutang yang sangat besar dan tidak dapat melakukan pembayaran. Lebih sialnya lagi pemerintah Tiongkok enggan membantu perusahaan tersebut.

Hal inilah yang membuat kondisi saham bisa turun sewaktu-waktu bahkan berhari-hari. Laporan keuangan baik negara maupun perusahaan, ketika hal tersebut menyentuh makro-mikro ekonomi bahkan hajat hidup, bisa sangat mempengaruhi penurunan pasar. Kepercayaan investor menjadi berkurang dan cenderung mendorong untuk mengambil aksi yang aman.

Kondisi Politik

Stabil tidaknya pemerintahan pada dasarnya juga mempengaruhi kondisi pasar saham dikarenakan pemerintahan yang stabil lebih menjamin iklim investasi. Namun jika kondisi politik justru sebaliknya, maka investor tidak hanya akan menjual saham namun juga “kabur”.

Tentu saja pada kondisi politik yang memburuk, dapat menimbulkan gejolak yang menyentuh segala aspek. Dalam konteks ekonomi, pergerakan politik dapat mempengaruhi kepercayaan investor dan tentunya keuntungan yang ditargetkan menjadi terancam. Itu belum termasuk seperti kebijakan ekonomi yang nantinya diambil oleh politisi untuk meyakinkan para investor.

Korupsi dan Terorisme

Faktor ini sebetulnya mempengaruhi dalam kondisi tertentu, utamanya jika kedua hal tersebut dalam kondisi yang sudah memprihatinkan. Banyaknya kasus korupsi di sebuah negara mengindikasikan banyaknya “permainan yang dimainkan” yang imbasnya mengurangi kepercayaan para investor.

Sedangkan untuk kasus terorisme juga memiliki dampak yang sama, sehingga bearish bisa terjadi dan tentunya tidak menyenangkan bagi investor.

Pandemi

Pandemi Covid-19 selama ini telah membuktikan bahwa efeknya telah terasa sampai ke sendi-sendi masyarakat, termasuk pada bursa efek. Penurunan saham di beberapa negara berkembang adalah salah satu yang paling terasa, tak terkecuali Indonesia. Meskipun daya konsumsi meningkat, namun bukan berarti semua emiten diuntungkan dalam hal ini.

Ini dikarenakan hanya saham-saham tertentu saja yang masih bisa bernafas. Beberapa diantaranya adalah saham perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, penyediaan barang dan jasa, namun tidak pada saham-saham di bidang manufaktur, teknologi, dan keuangan sendiri. Hal ini juga bisa menjadikan kondisi penurunan dan bearish yang tidak bisa dihindari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.