Averaging Up dan Averaging Down

Ketika anda sudah membeli saham, mungkin anda akan tertarik membelinya kembali terlepas harganya apakah akan naik atau turun. Hal ini wajar seperti halnya anda membeli baju beberapa stel ketika tahu harganya menguntungkan buat anda.

Namun dalam pembelian saham, anda lebih direkomendasikan untuk berhati-hati jika ingin melakukan hal tersebut. Inilah yang akan kami jelaskan mengenai apa itu averaging up dan averaging down.

Averaging Up dan Averaging Down sebetulnya merupakan strategi pembelian dengan tujuan untuk menambah saham anda. Namun keduanya memiliki kiat-kiat tersendiri baik ketika anda membeli saham ketika harga naik (up) atau ketika turun (down). Berikut mengenai penjelasan kedua strategi tersebut:

Averaging Up

Averaging Up maksudnya adalah anda menambah atau membeli lagi saham yang sama ketika harganya sedang naik. Jadi mirip ketika anda membeli barang yang sama, namun ternyata berbeda harga ketika membelinya di warung dan minimarket.

Misalkan pada hari Senin anda membeli saham G sebanyak 15 lot di angka Rp 2.560,- per lembar sahamnya, maka anda membeli lagi saham tersebut sebanyak 5 lot ketika hari Rabu di angka Rp 2.630,- per lembar. Pembelian inilah yang dinamakan averaging up dimana anda menambah saham ketika harganya naik.

Mengapa investor melakukan averaging up? Beberapa investor melakukan hal ini dikarenakan ia yakin bahwa saham tersebut harganya akan naik lagi. Jadi sebelum harga saham naik secara signifikan, si investor menginvestasikan modalnya untuk membeli saham ketika harga naiknya masih wajar.

Namun perlu anda ketahui bahwa averaging up bukan berarti anda membeli semua saham ketika harganya naik. Ini salah besar, realitanya adalah banyak investor melakukan ini dengan perlahan agar harganya secara perlahan naik sebelum nantinya dijual kembali disaat yang tepat.

Averaging Down

Sebaliknya, averaging down adalah kondisi yang berkebalikan dengan averaging up dimana anda membeli saham ketika harganya turun. Biasanya para investor melakukan averaging down ketika ia yakin bahwa saham yang dipunyainya punya prospek bagus dan akan meningkat seiring perjalanan waktu.

Misalnya anda baru saja membeli saham K sebanyak 10 lot dengan harga per lembar sahamnya Rp 2.100,- pada hari Kamis. Lalu pada hari Senin anda mendapati ternyata harganya turun lagi seharga Rp 2.000,- dan anda memutuskan untuk membeli lagi sebanyak 10 lot.

Apa keuntungannya jika dibandingkan dengan averaging up? Tentu saja harga saham yang anda beli lebih murah. Selain itu anda bisa mendapatkan sedikit demi sedikit saham yang dikumpulkan dengan averaging down.

Namun, sama seperti averaging up, averaging down juga memiliki kelemahan jika anda tidak tepat dan bijak membelanjakan saham yang anda mau. Salah satunya jika saham yang anda beli justru terlalu dalam penurunannya.

Bijak Menggunakan Strategi Averaging Up dan Averaging Down

Dalam menggunakan kedua strategi ini, pada dasarnya anda harus benar-benar mengetahui kondisi pasar saham ataupun trading. Ini disebabkan tidak serta merta misalnya menggunakan strategi average up dikala harga tinggi atau averaging down ketika harga sedang turun. Lebih-lebih jika anda berniat membeli saham dalam jumlah besar

Maka dari itulah anda perlu memikirkan hal-hal berikut supaya anda tetap aman menggunakan kedua strategi tersebut, diantaranya:

  1. Sebelum membeli saham, pertimbangkan saham unggulan yang memang punya performa baik di pasaran. Hal ini aman ketika anda akan melakukan averaging up, apalagi averaging down di kala anda yakin sahamnya akan naik kembali.
  2. Pantau kondisi pasaran saham yang anda beli. Setiap saham pasti memiliki histori fluktuasinya selama beberapa minggu. Hal ini cukup membantu memetakan strategi yang tepat apakah anda akan averaging up atau averaging down.
  3. Anda lebih direkomendasikan untuk membeli saham secara perlahan, bukan sekaligus. Hal ini berlaku ketika anda hendak membeli saham kembali di harga yang naik (averaging up) maupun ketika turun (averaging down). Mengapa? Agar anda tidak kaget jika harga saham tiba-tiba bergerak fluktuatif dan tidak sesuai dengan ekspektasi anda di awal.
  4. Tentukan berapa besaran cut loss ketimbang anda rugi ternyata saham yang anda beli malah lebih turun. Ini berguna agar anda tidak rugi dikala harus melepas saham yang tidak baik atau ketika anda terlanjur membelinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.