Pengertian Investor Retail

Jika anda di dunia bursa efek, anda akan menemui dua jenis investor, yaitu investor institusional dan investor retail. Jenis investor kedua yang kami sebutkan tadi adalah yang mungkin paling menarik untuk dibahas.

Investor retail pada dasarnya ialah investor yang memiliki modal yang kecil dan bergerak sendirian di bursa efek maupun trading. Pembeli saham yang secara umum bersifat individual, non institusional, dengan pendekatan yang berbeda-beda sesuai dengan gaya bisnisnya.

Meskipun secara individual investor retail lebih bergerak sendirian, namun pada dasarnya tujuannya juga sama dengan investor institusional. Hanya saja margin keuntungan dan biaya lain cenderung ditanggung sendiri, tidak seperti investor institusional yang bisa “patungan”.

5 Hal Mengenai Investor Retail

Selain perbedaannya dengan investor institusional, ada beberapa hal yang menarik mengenai investor retail. Berikut beberapa hal mengenai investor retail.

Banyak Investor Muda

Investor retail pada dasarnya bisa terdiri dari siapa saja, baik pemula maupun yang sudah menjadi master di pasar saham. Mereka bergerak dengan target keuntungan yang berbeda-beda pula, ada yang mengambil untung dengan margin kecil, konsisten, sampai besar dan membentuk institusi.

Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah banyak dari investor retail ini adalah investor muda berusia 20-40 tahunan. Benar bahwa banyak dari mereka adalah pemula dalam dunia bisnis dan cenderung masih belajar. Mereka tetaplah investor yang ingin mencicipi persaingan di bursa efek sampai meraih keuntungan yang mereka inginkan.

Modal Kecil sampai Menengah

Berbeda dengan investor institusional yang kerap mendanai emiten dengan modal besar, investor retail biasanya relatif memilih saham yang tidak mahal. Ini dikarenakan mereka masih berkutat dengan keuntungan instan yang ingin didapat. Tidak heran juga ada beberapa investor retail yang justru membeli saham tidur.

Otomatis rentang modal yang mereka keluarkan juga lebih menekankan efisiensi dengan tetap mengincar keuntungan dengan resiko sekecil mungkin. Ini memang wajar dilakukan oleh investor retail, terlebih jika mereka masih awal dalam berinvestasi.

Tidak Jarang Menggerakkan Nilai Saham

Selama ini banyak yang beranggapan bahwa investor institusional adalah market maker yang lebih berpengaruh. Tidak salah memang dikarenakan mereka memang memiliki modal besar serta dukungan finansial yang baik.

Namun dalam kondisi tertentu bisa saja investor retail-lah yang menggerakkan saham, utamanya jika kondisi pasar saham sedang bagus-bagusnya. Karena investor retail-lah yang mendorong nilai saham menjadi naik setelah pembelian.

Saham Teknologi Lebih disukai

Investor institusional biasanya akan memilih saham-saham yang kapitalisasi dan performa emiten-nya baik. Hal ini dikarenakan untuk menjaga peluang supaya tetap menghasilkan keuntungan yang bagus ditambah dengan value yang semakin naik.

Investor retail karena memiliki modal kecil hingga menengah tentu saja memiliki preferensi berbeda dalam mengincar saham. Saham-saham teknologi dan saham unggulan tertentu menjadi incaran investor retail dikarenakan perkembangan pasarnya yang masih bisa menanjak.

Berpotensi Menjadi Market Maker

Bukan tidak mungkin bahwa kemampuan yang diasah akan semakin baik, begitupun bagi investor retail. Jika mereka sudah menguasai bukan hanya analisis fundamental dan teknikal, namun juga pengetahuan volatilitas perdagangan, maka anda bisa saja menjadi market maker di masa depan.

Tentunya anda membutuhkan waktu untuk mencapai level tersebut. Selain itu anda harus benar-benar tahu pergerakan saham sehingga dari waktu ke waktu pemahaman anda di bursa efek juga semakin baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.